Workshop Halal Supply Chain Management With DR. Marco Tieman

Konsultan Branding

Saya IsahKambali dapat join workshop ini berkat undangan spesial dari teh Aisha Maharani (founder @HalalCorner). Workshop ini diadakan tanggal 26 maret 2015 di MarkPlus Institute Forum dengan pemateri sebagai berikut:

  1. DR. Marco Tieman
  2. Bpk Sapta Nirwandar mewakili Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah
  3. Hilman Shadaq , Nutrisari Quality Assurance Manager
  4. Aisha Maharanie dari komunitas @HalalCorner
  5. Muhammad Adjidarmo , Manager Produk Development APP (pabrik kertas yang dulu kita kenal tjiwi kimia)

Peserta terdiri dari dosen-dosen berbagai Universitas ternama seperti: Universitas Indonesia, UIN Ciputat, Trisakti, Moestopo dan dihadiri juga dari tataran manajer beberapa perusahaan dan hotel-hotel ternama. Hmmm.. pasti anda bingung.. kenapa hotel juga mengikuti workshop ini. Oke Nanti akan saya lanjutkan detailnya dibawah ya.

Hari ini, saya ketampar… ini bukan sekedar kita ngomongin bisnis, ekspor produk, strategi marketing bahkan branding. Tidak sama sekali, hari ini Main Speaker kita DR.Marco Tieman benar-benar menjelaskan detail tentang Halal Supply Chain Management-nya versi Aturan Islam yang sebenarnya, beliau memperhatikan semua proses dari hulu hingga halal, apa itu najis, bagaimana jika ada anjing di warehouse kita, bagaimana jika cargo produk halal tercampur dengan produk non halal dan semuanya super detail dan sesuai aturan Islam. Beliau mendalami “All About Halal” super keren. Beliau yang belum muslim lebih banyak tahu, sedangkan saya… hixxx NOL BESAR.

workshop-halal

Pasti Anda bertanya, kenapa beliau bersemangat untuk mendalami bidang ini ? Berikut alasannya (versi pandangan mata saya):

  1. Muslim adalah target konsumen yang besar, negara-negara muslim sekarang sedang tumbuh perekonomiannya. Dan ini adalah “makanan empuk” jika dijadikan target pasar mereka.
  2. Muslim memperhatikan standar Halal dan Thoyib, bukankah ini pasar yang spesific… Untuk muslim saja baik apalagi jika produk ini digunakan untuk mereka non muslim, pasti juga lebih baik.
  3. Pasarnya begitu luas, tidak melulu tentang Halalnya makanan, tapi juga ke pakaian, kosmetik, farmasi bahkan wisata halal pun mulai dikirik dan dikembangkan. (hihiii.. sebagai contoh adalah Wisata Halal ke Jepang, para Tours & Travel hanya memberikan sedikit menambahkan “Makanan Halal dan Jadwal Sholat” maka paket wisata tersebut jadi laris manis dan positioning yang lebih tinggi).

Itu dari target pasarnya, berikut data-data yang saya ambil berdasarkan workshopnya Mr.Marco :

Muslim population growing ini 2013o to 2,2 billion (26,4%)

masih adalagi :

 “The Halal Food, cosmetics & personal care anda pharmaceutical market will be USD 2,537 billion (21,2% of global expenditure), 73 billion (6,78% of global expenditure) and 103 billion (6,6% of global expenditure) by 2019 Respectively!” (thomson reuter, 2015)

Lalu…

The Halal Food market will be USD 2,537 billion (21,2% of global expenditure in 2019)” Largest Halal Food market:

  1. Indonesia -USD 190 billion
  2. Turkey – USD 168 billion
  3. Pakistan – USD 108 billion

The Halal Cosmetics & personal care market will be USD 73 billion (6,78% of global expenditure) in 2019, largest halal cosmetics &personal care:

  1. UAE – USD 4,9 billion
  2. Turkey – USD 4,4 billion
  3. India – USD 3,5 billion

The Halal pharmaceuticals market will be USD 103 billion (6,6% of global expenditure) in 2019“. Largest halal pharmaceuticals markets:

  1. Turkey – USD 8,9 billion
  2. Saudi Arabia – USD 5,9 billion
  3. Indonesia – USD 4,9 billion

Hixxx… sudah baca data diatas, gimana rasanya.. YES.. konsumen muslim menjadi roti yang empuk. Dan mayoritas pelaku bisnis ini alah dari Eropa yang notabene belum tentu muslim. Lalu pebisnis yang muslim kemana? Hmm… kita doakan saja ya…, semoga kita bisa menyediakan produk yang sesuai aturan islam yang sebenarnya. aamiin. (Saya Ketampar Dua Kali, bayangkan anda menjadi saya… hihiii yang training kita adalah mas bule yang ekspert tentang Halal dan beliau belum muslim, JLEB).

Oke, selanjutnya saya akan bahas tentang beberapa contoh studi kasus yang Mr.Marco yang berhubungan dengan Halal Supply Chain Management ala mr. Marco:

  1. Ketika Belanda ingin ekspor ayam ke negara kita, negeri ini benar-benar memperhatikan ke-Halal-an produknya, dimulai dari pakan, tempat tinggal, cara menyembelih, cargo bahkan packaging. Mereka memastikan semuanya Halal. Hihiii dan ada yang lucu yaitu bahwa, masyarakat belanda lebih suka dengan fillet ayam dibandingkan dengan tulang atau sayap. Hihiii.. so.. si’sayap’ ini yang diekspor ke negara kita. Jadi tidak ada yang terbuang dari bisnis ayam ini. Dengan kata lain, daging untuk pasar lokal, sayap untuk ekspor … menarik kan 😀
  2. Ekspor produk susu, ingat Eropa adalah peng-ekspor produk susu. Jika mereka tidak memperhatikan ke-halal-an produknya.. yang pasti konsumen setia ini akan langsung kabur. Sekali saja ada fakta bahwa Susu mereka terkontaminasi dengan produk non Halal maka… kita sebagai konsumen langsung kabur dan tidak trust lagi. Lalu pertanyaannya.. “Nanti yang beli produk mereka siapa ?”
  3. Studi kasus yang ketiga adalah Cokelat dengan Merk Cadb***, issue ini awalnya berkembang di Malaysia. Bahwa konon katanya cokelat ini mengandung babi. Iya.. anda benar, reaksi pasar langsung negatif  dan hasilnya penjualannya menurun drastis, tidak cukup itu BRAND nya pun langsung tidak dipercaya oleh konsumen. Apa yang bisa mereka lakukan ? Mengajukan sertifikasi halal ? Sudah terlambat, karena TRUST konsumen muslim sudah berkurang. Dalam prinsip Halal diperhatikan bahwa jika suatu produk itu dinali berwarna “abu-abu” atau syubhat maka konsumen muslim akan memilih untuk tidak menggunakannya. Tentu perusahaan seperti kebakaran jenggot. Efek kan dahsyat nya…
  4. Studi kasus selanjutnya adalah salah satu restoran di Indonesia, dimana konsumen yang mem”push” pihak restoran tersebut untuk segera membuat Sertifikasi HALAL MUI. Jadi, disini dapat kita lihat.. bahwa konsumen muslim sudah mulai mempunyai posisi untuk request khusus ke owner. Kalau mau kita makan produknya, dilabeli HALAL dulu, Diuji dulu… JLEB!!!
  5. Mass Power, itu dicirikan dengan hadirnya komunitas-komunitas dalam Hal ini @HalalCorner yang menjadi jembatan informasi antara produsen dengan konsumen. Komunitas yang hadir di sosial media ini mempunyai ratusan ribu follower yang setia. Mereka juga ingin jelas tentang ke-halal-an suatu produk. So… sekali lagi konsumen kita pelan-pelan mulai teredukasi.

Iya, itu baru sebagian materi diskusi tentang Halal Supply Chain Management, dan ada masih banyak bahasan yang lebih dalam lagi tentang HALAL, dan ada hal yang super NAMPAR saya pribadi adalah saat produksi dan distribusi, Adanya Statement dari teh aisha tentang Mass Power, Speech pak Hermawan yang handle Bank Syariah padahal beliau Non Muslim dan satulagi saya akan mengulas ketika Mr Marco memakai baju putih, ada alasan yang Mak Jleb Buat SAYA. InsyaAllah Next Artikel akan saya bahas :

seminar-halal-supply-chain-management

 

Baca juga:

Tips Internet Marketing Untuk UKM

Mengenal Tentang ZMOT (Zero Moment Of Truth) ala Google

 

(Dilihat 331 times, 1 visits today)

Leave a Reply